ULUMUL HADIS: PENGERTIAN SEJARAH PERKEMBANGAN DAN CABANG-CABANGNYA

Bab 1

Pendahuluan

MANUSIA dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alquran dan Hadis Rasulullah SAW.

Allah telah menganugerahkan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Alquran dan hadis Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alquran dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis.

Salah satu bentuk nyata para ahli hadis ialah dengan lahirnya istilah Ulumul Hadis(Ilmu Hadis) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadis-hadis Nabi SAW. Karena hadis merupakan sumber ajaran dan hukum Islam kedua setelah dan berdampingan dengan Alquran. Namun begitu perlu disadari bahwa hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah serta sebagai sumber ajaran Islam adalah hadis-hadis yang Maqbul (yang diterima), yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Selain hadis maqbul, terdapat pula hadis Mardud, yaitu hadis yang ditolak serta tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran Islam. Bahkan bukan tak mungkin jumlah hadis mardud jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadis yang maqbul.

Untuk itulah umat Islam harus selalu waspada dalam menerima dan mengamalkan ajaran yang bersumber dari sebuah hadis. Artinya, sebelum meyakini kebenaran sebuah hadis, perlu dikaji dan diteliti keotentikannya sehingga tidak terjerumus kepada kesia-siaan. Adapun salah satu cara untuk membedakan antara hadis yang diterima dengan yang ditolak adalah dengan mempelajari dan memahami Ulumul Hadis yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis.

 

Bahasan masalah

  • Pengertian ulumul hadis
  • Sejarah perkembangan ilmu hadis
  • Cabang-cabang ilmu hadis

 

 

 

 

 

Bab 2

Pembahasan

Pengertian Ulumul Hadis

Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadis yang mengandung dua kata, yaitu ‘ulum’ dan ‘al-Hadis’. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadis adalah: “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis, karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadis yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”.

Pada mulanya, ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya, sepertiIlmu al-Hadis al-Sahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al-Asma’ wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan, khususnya, oleh para ulama abad ke-3 H. Umpamanya, Yahya ibn Ma’in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa’ad (230H/844) menulis Al—Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilal dan Al-Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya.

Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadis, karena masing-masing membicarakan tentang Hadis dan para perawinya. Akan tetapi, pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi penggunaan lafaz jamak Ulumul Hadis setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalahMusthalahul Hadis.1

 

 

 

 

Sejarah perkembangan ulumul hadis

Pada dasarnya Ulumul Hadis telah lahir sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam, terutama setelah Rasul SAW wafat, ketika umat merasakan perlunya menghimpun hadis-hadis Rasul SAW dikarenakan adanya kekhawatiran hadis-hadis tersebut akan hilang atau lenyap. Para sahabat mulai giat melakukan pencatatan dan periwayatan hadis. Mereka telah mulai mempergunakan kaidah-kaidah dan metode-metode tertentu dalam menerima hadis, namun mereka belumlah menuliskan kaidah-kaidah tersebut.

Adapun dasar dan landasan periwayatan hadis di dalam Islam dijumpai dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. Dalam QS. Al-Hujarat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meneliti dan mempertanyakan berita-berita yang datang dari orang lain, terutama dari orang fasik. Firman Allah SWT

                     بِجَهَالَةٍ قَوْمًا تُصِيبُوا أَنْ فَتَبَيَّنُوا بِنَبَإٍ فَاسِقٌ جَاءَكُمْ إِنْ آَمَنُوا الَّذِينَ أَيُّهَا يَا

(الحجرات:6). مِي دِ نَا فَعَلْتُمْ مَا عَلَى فَتُصْبِحُوا

Hai orang-orang yang telah beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah berita tersebut dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”.(QS. Al-Hujurat: 6).

 Sementara dalam hadis disebutkan, “(Semoga) Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (hadis), lantas dia menyampaikannya (hadis tersebut) sebagaimana dia dengar, kadang-kadang orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengar”. (HR. At-Tirmizi).

            Dalam kitab Mabahits Ulumil Hadis, Syekh Manna Al-Qaththani menyimpulkan bahwa yang mendasari lahir dan berkembangnya Ilmu Hadis ada 2 (dua) hal pokok, yaitu adanya: (1) dorongan agama, dan (2) dorongan sejarah. Berikut akan penulis paparkan secara singkat kedua hal pokok tersebut:

Pertama: Dorongan Agama

Bahwasanya umat manusia memperhatikan warisan pemikiran yang dapat menyentuh dan membangkitkan kehidupan mereka, memenuhi kecintaan hati mereka, menjadi pijakan kebangkitan mereka, lalu mereka terdorong untuk menanamkannya pada anak-anak mereka agar menjadi orang yang memahaminya, hingga warisan itu selalu hadir di hadapan mereka, membimbing langkah dan jalan mereka.

Jika umat lain begitu perhatian terhadap warisan pemikiran mereka, maka umat Islam yang mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW juga tidak kalah dalam memelihara warisan yang didapatkan dari Nabi SAW dengan cara periwayatan,menukil, hafalan, dan menyampaikannya, serta mengamalkan isinya,                                                                                                                                                                                                                                                                                          

                                                                                                                                         

karena itu bagian dari eksistensinya, dan hidup umat ini tiada berarti tanpa dengan agama. Oleh karenanya Allah mewajibkan dalam agama untuk mengikuti dan menaati Rasul-Nya, menjalani semua apa yang dibawa beliau, dan meneladani kehidupannya.

Kedua : Dorongan Sejarah

Dalam sejarah, umat manusia banyak dihadapkan pada pertentangan dan halangan sehingga mendorong untuk menjaga warisan mereka dari penyusupan yang menyebabkan terjadinya fitnah dan saling bermusuhan serta tipu muslihat.

Dan umat Islam yang telah merobohkan pilar kemusyrikan, dan mendobrak benteng Romawi dan Persia, menghadapi musuh-musuh bebuyutan, tahu benar bahwa kekuatan umat ini terletak pada kekuatan agamanya, dan tidak dapat dihancurkan kecuali dari agama itu sendiri, dan salah satu jalannya adalah pemalsuan terhadap hadis. Dari sini, kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadis, dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar, agar mereka dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya sehingga tetap bersih, tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan.

Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah:

1- Mengurangi periwayatan hadis .

Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasul SAW. Selain itu mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan umat Islam terhadap as-Sunnah dan mengabaikan Al-Quran

2- Ketelitian dalam periwayatan.

Para sahabat sangat berhati-hati dalam menerima hadis tanpa adanya perawi yang benar-benar dapat dipercaya, karena mereka sangat takut terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadis Nabi SAW.

3- Kritik terhadap riwayat.

Adapun bentuk kritik terhadap riwayat adalah dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat dengan Al-Qur’an, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya.

Ketelitian dan sikap hati-hati para Sahabat Nabi SAW tersebut diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap tersebut semakin ditingkatkan terutama setelah munculnya hadis-hadis palsu, yakni sekitar tahun 41 H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. Semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadis dengan mempraktikkan ilmu al-jarah wa al-ta’dil, dan sekaligus mulai pulalah ilmu ini tumbuh dan berkembang.

Setelah munculnya kegiatan pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,

                                                                                                                                                    

maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadis dalam rangka memelihara kemurnian hadis, yaitu seperti:                                                                                    

a)     melakukan pembahasan terhadap sanad hadis serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi hadis, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan;

b)     melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber hadis agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut melaluinya;

c)      melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu hadis.

Demikianlah kegiatan para ulama hadis di abad pertama Hijrah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadis. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi hadis, yaitu: Hadis Marfu’, Hadis Mawquf, Hadis Muttashil, dan Hadis Mursal. Dari macam-macam hadis tersebut, juga telah dibedakan antara hadis maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan hadis shahih dan hadis hasan, serta hadis mardud yang kemudian dikenal dengan hadis dha’if dengan berbagai macamnya.

Pada abad kedua Hijrah, ketika hadis telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri, para ulama yang bertugas dalam menghimpun dan membukukan hadis tersebut menerapkan ketentuan-ketentuan Ilmu Hadis yang sudah ada dan berkembang sampai pada masa mereka. Mereka memperhayikan ketentuan-ketentuan hadis shahih, demikian juga keadaan para perawinya. Hal ini dilakukan lantaran semakin banyaknya para penghafal hadis yang telah wafat.

Pada abad ketiga Hijrah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadis, mulailah ketentuan dan perumusan kaidah-kaidah Hadis ditulis dan dibukukan, namun masih bersifat parsial.Yahya ibn Ma’in (w. 234H/848M) menulis tentang Tarikh ar-Rijal, Muhammad ibn Sa’ad (w. 230H/844M) menulis Al-Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-‘Ilal, dan lain-lain.

Pada abad keempat dan kelima hijrah mulailah ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang Ilmu Hadis yang bersifat komprehensif. Selanjutnya, pada abad setelah itu mulailah bermunculan karya-karya di bidang Ilmu Hadis ini yang sampai saat ini masih menjadi referensi utama dalam membicarakan ilmu hadis. Adapun ulama yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ini adalah al Qadhi Abu Muhammad al Hasan bin Abdurrahman bin Chalad ar Ramaharmuzi (wafat pada tahun 360 H), kitabnya Al Muhaddits al Fashil Baina al Rawi wa al Wa’i.  (oleh: Indra L Muda) 2

CABANG-CABANG ILMU HADITS

Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian, yaitu Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah, yaitu:

2 http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html                               

                                                                                                                                                     

1) Ilmu Hadis Riwayah

Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Riwayah, sebagaiamana  yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi Ulum al-Hadisseperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut:

وَأَحْوَالُهُ وَأَفْعَالُهُ سلم و عليه  الله صلى اللهِ سُوْلِ رَ الُ أَقْوَ بِهِ فُ يُعْرَ عَلْمٌ : هُوَ بِالرِّوَايَةِ الخَاصُّ الْحَدِيْثِ عِلْمُ

أَلْفَاظِهَا تَحْرِيْرُ وَ ضَبْطُهَا وَ وَرِوَايَتُهَا

Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rasul SAW serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya.

Dari definisi tentang ilmu Hadis Riwayah di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW.

  • Objek Kajian Ilmu Hadis Riwayah
  1. cara periwayatan hadis, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain.
  2. cara pemeliharaan hadis, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan, dan pembukuannya.

 

2) Ilmu Hadis Dirayah

Mengenai pengertian Ilmu Hadis Dirayah, para ulama hadis memberikan definisi yang bervariasi, namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan, maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya, terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya:

Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut:

وَشُرُوْ الرُّوَاةِ  وَحَالُ وَأَحْكَامُهَا وَأَنْوَاعُهَا وَشُرُوْطُهَا الرِّوَايَةِ حَقِيْقَةُ مِنْهُ يُعْرَفُ عِلْمٌ: باِلدِّرَايَةِ الخَاصُّ الَحَدِيْثِ وَعِلْمُ

بِـهَا وَمَايَتَعَلَّقُ الْمَرْوِيَاتِ وَأَصْنَافُ طُهُمْ 

“Dan ilmu hadis yang khusus tentang dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui  hakikat riwayatsyarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya,keadaan para perawisyarat-syarat merekajenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.”

Dari definisi ini dapat dijelaskan beberapa hal, yaitu:

 

 

  • Hakikat Riwayat, yaitu kegiatan periwayatan hadis dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdis, yaitu perkataan seorang perawi, “haddasana fulan” (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau ikhbar, seperti perkataan: “akhbarana fulan” (telah mengabarkan kepada kami si Fulan).
  • Syarat-Syarat Riwayat, yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadis), seperti sama’ (perawi mendengar langsung bacaan hadis dari seorang guru), qira’ah (murid membacakan catatan hadis dari gurunya dihadapan guru tersebut), ijazah (member izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadis dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya),munawalah (menyerahkan suatu hadis yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan), kitabah (menuliskan hadis untuk seseorang), I’lam (member tahu seseorang bahwah hadis-hadis tertentu adalah koleksinya), washiyyat(mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadis yang dimilikinya), dan wajadah(mendapatkan koleksi tertentu tentang hadis dari seorang guru.
  • Macam-macam Riwayat,  yaitu seperti periwayatan muttsahil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi terakhir,ataumunqathi’ (periwayatan yang terputus, baik di awal, di tengah, atau di akhir, dan lainnya.
  • Hukum Riwayat, yakni al-qabul (diterimannya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dan al-radd (ditolak, karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi.
  • Keadaan para Perawi, maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al-‘adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh).
  • Syarat-syarat Mereka, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-add’).
  • Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat), adalah penulisan hadis di dalam kitab al-musnadal-mu’jam, atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Nabi SAW.
  • Objek Kajian Ilmu Hadis Dirayah
  1. segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadis tersebut. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya atau tersamar;
  2. segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad), yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya);
  3. segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz);
  4. segi keselamatannya dari cacat (‘illat); dan
  5. tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad.3

 

 

Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah:


a. Ilmu Rijalul Hadits
ialah ilmu yang membahas para perawi hadits, dari sahabat, dari tabi’in, maupun dari angkatan sesudahnya.
Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui, keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya.

Dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi, madzhab yang dipegangi oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu menerima hadits.
b. Ilmu Jarhi wat Ta’dil
Ilmu yang menerangkan tentang hal cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta’dilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat kata-kata itu.
Ilmu Jarhi wat Ta’dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan, mana informasi yang benar yang datang dari Nabi dan mana yang bukan.
c. Ilmu Fannil Mubhammat
Ilmu fannil Mubhamat adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan, atau di dalam sanad.
Di antara yang menyusun kitab ini, Al-Khatib Al Baghdady. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat.
Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari.
d. Ilmu ‘Ilalil Hadits
Adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat merusakkan hadits.
Yakni: menyambung yang munqathi’, merafa’kan yang mauquf, memasukkan suatu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu. Semuanya ini, bila diketahui dapat merusakkan hadits.
Ilmu ini, ilmu yang berpautan dengan keshahihan hadits. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits, melainkan oleh ulama, yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadits.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui ‘illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka, yang dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu’tal (ada ‘illatnya) atau tidak. Jika menurut dugaan penelitinya ada ‘illat pada hadits tersebut maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih .
e. Ilmu Ghoriebil Hadits
Yang dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik,

 

dan yang sudah dipahami karena jarang dipakai, sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut.
f. Ilmu Nasikh wal Mansukh
Adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan menasikhkannya.
Apabila didapati sesuatu hadits yang maqbul tak ada perlawanan, dinamailah hadits tersebut muhkam. Dan jika dilawan oleh hadits yang sederajat, tapi mungkin dikumpulkan dengan tidak sukar maka hadits itu dinamai muhtaliful hadits.

 Jika tidak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian, maka yang terkemudian itu dinamai nasikh dan yang terdahulu dinamai mansukh.

g. Ilmu Talfiqil hadits
Yaitu ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan antar hadits yang berlawanan lahirnya.
Dikumpulkan itu ada kalanya dengan mentahsikhkan yang ‘amm, atau mentaqyidkan yang mutlak, atau dengan memandang banyak kali terjadi.
h. Ilmu Tashif wat Tahrif
Yaitu ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (dinamai mushohaf), dan bentuknya (dinamai muharraf).
i. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits
Yaitu ilmu yang membicarakan tentang sebab-sebab Nabi menuturkan sabda beliau dan waktu beliau menuturkan itu.
Menurut Prof Dr. Zuhri ilmu Asbabi Wurudil Hadits dalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab timbulnya hadits. Terkadang, ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya, akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan.
Disamping itu, ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran islam secara komprehensif. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang “Pertentangan”. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang tertarik untuk menulis tema semacam ini.Misalnya, Abu Hafs Al- Akbari (380-456H), Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin, yang lebih dikenal dengan Ibn hamzah Al-Husainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya Al-Bayan Wa Al Ta’rif Fi Asbab Wurud Al- hadits Al-Syarif.
j. Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits
Yaitu ilmu yang menggabungkan dan memadukan antara hadits yang zhahirnya bertentangan atau ilmu yang menerangkan ta’wil hadits yang musykil meskipun tidak bertentangan dengan hadits lain.
Oleh sebagaian ulama dinamakan dengan “Mukhtalaf Al-Hadits” atau “Musykil Al-Hadits”, atau semisal dengan itu. Ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menguasai hadits dan fiqih .4

 

kesimpulan

dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari ilmu hadis atau ulumul hadis adalah apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

adapun sejarah perkembangan ilmu hadis terjadi sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam, terutama setelah Rasul SAW wafat,sejak abad pertama hingga kelima hijriah dan yang mendasari lahir dan berkembangnya Ilmu Hadis terdiri dari 2 (dua) hal pokok, yaitu adanya: (1) dorongan agama, dan (2) dorongan sejarah.

Adapun cabang ilmu hadis dibagi menjadi 2, yaitu:
Ilmu Dirayatul Hadits dan Ilmu Riwayatul Hadits

Dan Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah terdiri dari 10 cabang,yaitu:

Ilmu Rijalul Hadits, Ilmu Jarhi wat Ta’dil, Ilmu Fannil Mubhammat, Ilmu ‘Ilalil Hadits, Ilmu Ghoriebil Hadits, Ilmu Nasikh wal Mansukh, Ilmu Talfiqil hadits, Ilmu Tashif wat Tahrif, Ilmu Asbabi Wurudil Hadits, Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits

 

 

 

saran

saran kami untuk para pembaca agar dapat mengambil intisari atau kesimpulan dari makalah ini.dan kami sebagai penyusun makalah ini mengharapkan kritik dan saran,karena kami hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan.     


daftar pustaka

 

1 http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html

2 http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html

3 http://syahrulhsb.wordpress.com/pendidikan/

4 http://myant2526.blogspot.com/2010/05/blog-post.html

 

 

 

MAKALAH QASHASH AL QUR’AN

QASHASH AL QUR’AN

PENDAHULUAN

Alquran merupakan kitab suci pedoman seluruh umat Islam yang memiliki mukjizat paling besar. Oleh karena itu umat Islam perlu mengkaji lebih jauh terkait isi kandungan Alquran sehingga akan diketahui hakekat makna dalam Alquran itu. Untuk mengetahui kandungan Alquran itu diperlukan suatu metode keilmuan yang dikenal dengan nama ulumul quran.

Menurut Az-Zarqani, ulumul quran merupakan suatu bidang studi yang membahas tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Alquran, baik dilihat dari segi turunnya, urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemu’jizatannya, nasikh mansukhnya, penolakan hal-hal yang menimbulkan keraguan terhadap Alquran dan sebagainya.

Dalam Alquran terdapat beberapa pokok-pokok kandungan. Diantara pokok-pokok kandungan Alquran adalah aqidah, syariah, akhlak, sejarah, iptek, dan filsafat. Sebagian orang seperti Mahmud Syaltut, membagi pokok ajaran Alquran menjadi dua pokok ajaran, yaitu Akidah dan Syariah.1 Namun sesuai dengan tema makalah ini hanya akan dijelaskan secara lebih rinci terkait dengan bidang sejarah.

Kandungan Alquran tentang sejarah atau kisah-kisah disebut dengan istilah Qashashul Quran (kisah-kisah Alquran). Bahkan ayat-ayat yang berbicara tentang kisah jauh lebih banyak ketimbang ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Hal ini memberikan isyarat bahwa Alquran sangat perhatian terhadap masalah kisah, yang memang di dalamnya banyak mengandung pelajaran (ibrah). Sesuai firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”.[QS yusuf : 111].2

 

 


1 Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidah wa al-Syariah (Beirut: Dar al-Qalam, 1966), hlm. 11

        2 murtadlo,ali ”QASHASHUL QUR’AN (Kisah-Kisah Dalam al-Quran)” artikel diakses dari http://rismaalqomar.wordpress.com/2010/04/29/qashashul-qur%E2%80%99an-kisah-kisah-dalam-al-quran/

A.PENGERTIAN QASHASH AL QUR’AN

Dari segi bahasa, kata qashash berasal dari bahasa arab al qashshu atau al qishshatu yang berarti cerita.3 dikatakan قَصَصْتُ أَثَرَهً artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya”. Kata al qashash adalah bentuk masdar. Firman allah: فَارْتَدَّا عَلىٰ آثَارِهِمَاقَصَصًا (al kahfi :64). Dan firman allah melalui lisan ibu musa: وَقَالَتْ لأُ خِتِهِ قُصِّيهِ (dan berkatalah ibu musa kepada saudaranya yang perempuan: ikutilahdia.) [al qashash : 11]. Maksudnya, ikutilah jejaknya sampai kamu melihat siapa yang mengambilnya.

Qashash berarti berita yang berurutan. Firman allah: إِنْ هَذَا لَهُوَالْقَصَصُ الْحَقُّ (sesungguhnya ini adalah berita yang benar.) [ali imran : 62]. Sedang al qishah berarti urusan, berita, perkara dan keadaan.

Qashash al qur’an adalah pemberitaan qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.4

B.MACAM-MACAM KISAH DALAM AL QUR’AN DAN KARAKTERISTIKNYA

Kisah-kisah dalam al qur’an ada tiga macam.

Pertama, kisah para Nabi terdahulu. Kisah ini mengandung informasi mengenai dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Misalnya kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Isa.5


3 Ahmad warson munawwir, kamus al munawwir (Yogyakarta: UPBIK pondok pesantren krapyak, 1984), h. 1210.

4 Al khattan, manna’khalil, studi ilimu-ilmu al qur’an (Bogor; pustaka litera antarnusa, 1996) cetakan ke-3.

5 al qaththan, op.cit.,h.431

Kedua, kisah-kisah menyangkut pribadi-pribadi dan golongan-golongan dengan segala kejadiannya yang dinukil oleh Allah untuk dijadikan pelajaran, seperti kisah Maryam, Lukman, Dzulqarnain, Qarun dan Ashabul kahfi.

Ketiga, kisah-kisah menyangkut peristiwa-peristiwa pada masa Rasulullah SAW. Seperti perang badar, perang uhud, perang ahzab,bani quraizah, bani nadzir dan zaid bin haritsah dengan abu lahab.6

Karakteristik kisah-kisah dalam al qur’an

Al qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa-peristiwa secara berurutan (kronologis). Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam al qur,an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Disatu tempat ada bagian-bagian yang didahulukan, sedang di tempat lain diakhirkan. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar.

Penyajian kisah-kisah dalam al qur’an begitu rupa mengandung  beberapa hikmah. Di antaranya, pertama, menjelaskan balaghah al qur’an dalam tingkat paling tinggi. Kisah yang berulang itu dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenannya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat yang lain.

Kedua, menunjukkan kehebatan al qur’an. Sebab, mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan arab, merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa al qur’an itu datang dari Allah.

Ketiga, mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian al qur’an terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan.

Keempat, penyajian seperti itu menunjukkan perbedaan tujuan yang karenannya kisah itu diungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah yang diperlukan, sedangkan makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain, sesuai dengan tuntutan keadaan.


6 al utsaimin, op.cit.,h.71

C.TUJUAN KISAH DALAM AL QUR’AN

          Cerita dalam al qur’an bukanlah suatu gubahan yang hanya bernilai sastera saja, baik gaya bahasa maupun cara menggambarkannya peristiwa-peristiwanya. Memang biasanya demikianlah wujudnya, cerita yang merupakan hasil kesusastraan murni. Bentuknya hanya semata-mata menggambarkan seni bahasa saja. Tetapi cerita dalam al qur’an merupakan salah satu media untuk mewujudkan tujuannya yang asli.

Jika dilihat dari keseluruhan kisah yang ada maka tujuan-tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.

Pertama, salah satu tujuan cerita itu ialah menetapkan adanya wahyu dan kerasulan. Dalam al qur’an tujuan ini diterangkan dengan jelas di antaranya dalam QS.12 : 2-3 dan QS 28 : 3. Sebelum mengutarakan cerita nabi musa, lebih dahulu al qur’an menegaskan, “kami membacakan kepadamu sebagian dari cerita Musa dan Fir’aun dengan sebenarnya untuk kamu yang beriman”. Dalam QS 3 : 44 pada permulaan cerita Maryam disebutkan, “itulah berita yang ghaib, yang kami wahyukan kepadamu”.

            Kedua, menerangkan bahwa agama semuanya dari Allah, dari masa Nabi Nuh sampai dengan masa Nabi Muhammad SAW, bahwa kaum muslimin semuanya merupakan satu umat. Bahwa Allah yang maha esa adalah tuhan bagi semuanya (QS 21 : 51-92).

Ketiga, menerangkan bahwa agama itu semuanya dasarnya satu dan itu semuanya dari tuhan yang Maha Esa (QS 7 : 59).

Keempat, menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh nabi-nabi dalam berdakwah itu satu dan sambutan kaum mereka terhadap dakwahnya itu juga serupa (QS Hud)

Kelima, menerangkan dasar yang sama antara agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dengan agama Nabi Ibrahim As., secara khusus, dengan agama-agama bangsa israil pada umumnya dan menerangkan  bahwa hubungan ini lebih erat daripada hubungan yang umum antara semua agama. Keterangan ini berulang-ulang disebutkan dalam cerita Nabi Ibrahim, Musa dan Isa As.7


7 ghirzin, muhammad “Al qur’an dan ulumul qur’an”.,h. 120

D.FAEDAH KISAH-KISAH AL QUR’AN

          Kisah-kisah dalam al qur’an mempunyai banyak faedah. Berikut ini beberapa faedah terpenting diantaranya:

  1. Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan menjelaskan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh para Nabi:

Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (al anbiya : 25)

  1. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umat Muhammad atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.

“Dan semua kisah rasul-rasul yang kami ceritakan kepadamu, adalah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud : 120)

  1. Membenarkan para Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya.
  2. Menampakkan kebenaran Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya tentang  hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
  3. Menyibak kebohongan ahli kitab dengan hujjah yang membeberkan keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan  dan menantang mereka dengan isi kitab mereka sendiri sebelum kitab itu diubah dan diganti. Misalnya firman Allah:

“semua makanan adalah halal bagi bani israil melainkan makanan yang diharamkan oleh israil (ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum taurat diturunkan. Katakanlah: (jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum taurat), maka bawalah taurat itu, lalu bacalah ia jika kamu orang-orang yang benar.” (Ali imran :93)

  1. Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar dan memantapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ke dalam jiwa. Firman Allah:

“sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (Yusuf : 111).8


8 Al khattan, manna’khalil, studi ilimu-ilmu al qur’an (Bogor; pustaka litera antarnusa, 1996) cetakan ke-3.

KESIMPULAN

Dari uraian makalah di atas kita dapat mengambil beberapa kesimpulan diantaranya:

  1. Alquran merupakan kitab suci umat Islam dan manusia seluruh alam yang tidak dapat diragukan kebenarannya dan berlaku sepanjang zaman, baik masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang.
  2. Sebagian isi kandungan dalam Alquran kebanyakan memuat tentang qashas (sejarah) umat-umat terdahulu sebagai bahan pelajaran bagi umat sekarang (umat Islam).
  3. Qashashul quran adalah kabar-kabar dalam Alquran tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.
  4. Tujuan kisah Alquran adalah untuk memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya dan agar dijadikan ibrah (pelajaran) untuk memperkokoh keimanan dan membimbing ke arah perbuatan yang baik dan benar.
  5. Karakteristik kisah al qur’an adalah Al qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa-peristiwa secara berurutan (kronologis) dan tidak pula memaparkan kisah-kisah itu secara panjang lebar.
  6. Faedah kisah dalam Alquran adalah untuk dakwah menegakkan kalimat tauhid, membantah kebohongan kaum kafir serta menjadikannya sebagai pelajaran yang amat berharga bagi umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidah wa al-Syariah (Beirut: Dar al-Qalam, 1966), hlm. 11

murtadlo,ali ”QASHASHUL QUR’AN (Kisah-Kisah Dalam al-Quran)” artikel diakses dari http://rismaalqomar.wordpress.com/2010/04/29/qashashul-qur%E2%80%99an-kisah-kisah-dalam-al-quran/

Ahmad warson munawwir, kamus al munawwir (Yogyakarta: UPBIK pondok pesantren krapyak, 1984), h. 1210.

Al khattan, manna’khalil, studi ilimu-ilmu al qur’an (Bogor; pustaka litera antarnusa, 1996) cetakan ke-3.

ghirzin, muhammad “Al qur’an dan ulumul qur’an”.,h. 120

ORGANISASI BIOLOGI SERTA DALIL YANG TERKAIT

ORGANISASI BIOLOGI

PENDAHULUAN

A.Tujuan

Dalam penyusunan karya ilmiah ini, tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan tersebut adalah:

  1. Untuk memenuhi tugas UAS semester 1
  2. Untuk Mengetahui pengertian dari organisasi biologi
  3. Untuk Mengetahui penjabaran tentang organisasi biologi
  4. Untuk Mengetahui dalil-dalil dari Al qur’an ataupun dari Al hadist terkait dengan organisasi biologi

B.Latar Belakang

Biologi (ilmu hayat) adalah ilmu mengenai kehidupan. Istilah ini diambil dari bahasa Belanda “biologie”, yang juga diturunkan dari gabungan kata bahasa Yunani, βίος, bios (“hidup”) dan λόγος,logos (“lambang”, “ilmu”). Dahulu—sampai tahun 1970-an—digunakan istilah ilmu hayat (diambil dari bahasa Arab, artinya “ilmu kehidupan”).1 Sedangkan organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua makhluk atau lebih.

Jadi organisasi biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua makhluk hidup atau lebih.

Interaksi antarsesama makhluk dan dengan alam sekitar mereka dipelajari dalam ekologi. Sedangkan tempat dimana kehidupan tersebut berlangsung dinamakan dengan ekosistem.

Dengan demikian karya ilmiah ini akan menjelaskan tentang organisasi biologi beserta dalilnya yang terkait.

C.Sejarah dan Ruang Lingkup Ekologi dan Ekosistem

 

ekologi

1. Istilah ekologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu oikos dan logos. Istilah ini mula-mula diperkenalkan oleh Ernst Haeckel pada tahun 1869.


1 contoh makalah biologi. Diakses dari http://www.filesking.net/doc/contoh-makalahbiologi.html pada tanggal 22 februari 2012

Tetapi jauh sebelurmya, studi dalam bidang-bidang yang sekarang termasuk dalam ruang lingkup ekologi telah dilakukan oleh para pakar.

2. Ekologi merupakan cabang biologi, dan merupakan bagian dasar dari biologi. Ruang lingkup ekologi meliputi populasi, komunitas, ekosistein, hingga biosfer. Studi-studi ekologi dikelompokkan ke dalam autekologi dan sinekologi.

3. Ekologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan ekologi tak lepas dari perkembangan ilmu yang lain. Misalnya, berkembangnya ilmu komputer sangat membantu perkembangan ekologi. Penggunaan model-model matematika dalam ekologi misalnya, tidak lepas dari perkembangan matematika dan ilmu kornputer.

Ekosistem

1. Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi organisme hidup dengan lingkungan mereka. Istilah tersebut pada mulanya diperkenalkan oleh A.G.Tansley pada tahun 1935. Sebelumnya, telah digrrnakan istilah-istilah lain, yairu biocoenosis, dan mikrokosmos.

2. Setiap ekosistem memiliki enam komponen yaitu produsen, makrokonsumen, mikrokonsumen, bahan anorganik, bahan organik, dan kisaran iklim. Perbedaan antar ekosistem hanya pada unsur-unsur penyusun masing-masing komponen tersebut. Masing-masing komponen ekosistem mempunyai peranan dan mereka saling terkait dalam melaksanakan proses-proses dalam ekosistem. Proses-proses dalam ekosistem meliputi aliran energi, rantai makanan, pola keanekaragaman, siklus materi, perkembangan, dan pengendalian.

3. Daerah Aliran sungai (DAS) dari suatu badan air, akan menentukan stabilitas dan proses metabolisme yang berlangsung di dalam badan air yang bersangkutan. Pengelolaan badan air harus menyertakan pengelolaan daerah aliran sungainya.

4. Setiap ekosistem rnampu mengendalikan dirinya sendiri, dan mampu menangkal setiap gangguan terhadapnya. Kemampuan ini disebut homeostasis. Tetapi kemampuan ini ada batasnya. Bilamana batas kemampuan tersebut dilampaui, ekosistem akan mengalami gangguan. Pencemaran lingkungan merupakan salah satu bentuk gangguan ekosistem akibat terlampauinya kemampuan homeostasis.2

 


2 sejarah dan ruanglingkup ekologi dan ekosistem. Diakses dari http://massofa.wordpress.com/2008/09/23/sejarah-dan-ruang-lingkup-ekologi-dan-ekosistem/  pada tanggal 09 maret 2012

PEMBAHASAN

A.Ekologi

            Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi  antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst haeckel (1834-1914).3 Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosisitem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Konsep Ekologi

Hubungan keterkaitan dan ketergantungan antara seluruh komponen ekosistem harus dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (homeostatis). Perubahan terhadap salah satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya.homeostatis adalah kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan.

Ekosistem mampu memelihara dan mengatur diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi. Dengan demikian, ekosistem dapat dianggap suatu cibernetik di alam. Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah ini. ekosistem merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia.4


3 Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27

4Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, ekologi. Artikel diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi pada tanggal 09 maret 2012

B.Ekosistem

Istilah lain ekosistem = biocoenosis = mikrocosm = geobiocoenocis.

Ekosistem adalah tempat dimana kehidupan berlangsung dalam sistem yang teratur dan mandiri atau ketergantungan, misalnya rantai/jaringan makanan dan siklus hidrologi.

Ekosistem adalah sistem kehidupan atau sistem yang mandiri (artinya mencukupi seluruh kebutuhannya sendiri secara berkesinambungan/self-sustained).

Ilmu geografi mempelajari ekosistem sebagai bagian dari ruang/muka bumi dalam sistem kehidupannya (contoh pengwilayaan,mangrove, dan pengelolaan sumberdaya alam dan sistem daerah aliran sungai/danau).

Susunan Ekosistem

Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.

  1. komponen autotrof

(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.

  1. komponen heterotrof

(Heteros = berbeda, trophikos = makanan).
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

  1. bahan tak hidup (abiotik)

Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.

  1. Pengurai (dekomposer)

Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.5


5 biologi,susunan dan macam ekosistem. 2000. Diakses dari http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0034%20Bio%201-7e.htm pada tanggal 09 maret 2012

C.Tipologi Ekosistem

     Ekosistem adalah seperangkat komponen abiotik dan biotik            yang mempunyai hubungan saling keterkaitan/saling membutuhkan.

Darisegi jenjang makanan ada dua komponen ekosistem yaitu;

  1. Autotrofik
  2. Heterotrofik

Dari segi fungsional, ekosistem dapat dianalisa menurut;

  1. Lingkaran, energi
  2. Rantai makanan
  3. Pola keragaman, dalam waktu, dan ruang
  4. Perkembangan dan evolusi
  1. Pengendalian (cybernetics)

KOMPONEN EKOSISTEM ABIOTIK

AIR→UDARA→TANAH→SINAR MATAHARI→SUHU

KOMPONEN EKOSISTEM BIOTIK

  1. PRODUSEN→makhluk hidup yang mampu membuat makanan melalui fotosintesis
  2. KONSUMEN→makhluk hidup yang makanannya tergantung pada produsen. →KARNIVORA

HERBIVORA

       →OMNIVORA

        3. PENGURAI (DEKOMPOSER)→makhluk hidup yang mampu mengurai zat   yang sudah tidak terpakai/organik menjadi anorganik.

D.Macam-macam Interaksi Dalam Komunitas

  1. PREDASI→Interaksi populasi yang satu memakan (predator) yang lain (pray)
  2. KOMPETISI→Interaksi populasi yang memiliki niche yang sama sehingga terjadi persaingan, yang menang dapat survive.
  3. KOMENSALISME→Interaksi populasi yang satu mendapat keuntungan tapi tidak merugikan yang lain.
  4. MUTUALISME→Interaksi populasi yang saling menguntungkan
  5. PARASITISME→Interaksi populasi yang satu merugikan yang lain.

E.Dalil-dalil Terkait Dengan Organisasi Biologi

وَاْلاَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيْهَادِفْءٌوَّمَنَافِعُ وَمِنْهَاتَأكُلُوْنَ.

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.(Qs: AN NAHL  [5] )

هُوَالَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءًلَّكُمْ مِّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌفِيهِ تُسِيمُوْنَ.

Dia lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu,sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya), kamu mengembalakan ternakmu.(Qs: AN NAHL [10] )

وَّاْلخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَلِتَرْكَبُوْهَاوَزِيْنَةً وَيَخْلُقُ مَالاَتَعْلَمُوْنَ

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Qs: AN NAHL [8] )

وَهُوَالَّذِي سَخَّرَالْبَحْرَلِتَأكُلُوَامِنْهُ لَحْمًاطَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوامِنْهُ حِلْيَةً تَلبَسُوْنَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَفِيهِ وَلِتَبْتَغُوْامِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan dia-lah,Allah yang menundukkan lautan (untukmu),agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kami mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera daripadanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karuniaNya, dan supaya kamu bersyukur. (Qs: AN NAHL [14])

 الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ اْلاَرْضَ فِرَاشًاوَّالسَّمَاٙءَبِنَاٙءً وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاٙءِمَاٙءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلوُاْ لِلّهِ اَنْدَادًاوَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dialah yang menjdaikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui. (Qs: AL BAQARAH [22])

وَمَايَسْتَوِى اْلبَحْرٰنِ هٰذَاعَذْبٌ فُرَاتٌ سَاٙٮِٕغٌ شَرَابُهُ وَهٰذَامِلْحٌ اُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأكُلُوْنَ لَحْمًا طَرِيًّاوَّتَسْتَخْرِجُوْنَ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيْهِ مَوَاخِرَلِتَبْتَغُوْامِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan tiada sama(antara) dua laut, yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakannya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Qs FAATHIR [12] )

حَدَّثَنَاقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُوعَوَانَةَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُالرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَرَكِ حَدَّثَنَا أَبُوعَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ,قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْيَزْرَعُ زَرْعًافَيَأكُلُ مِنْهُ طَيْرٌأَوْإِنْسَانٌ أَوْبَهِمَةٌ إَلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ وَقَالَ لَنَا مُسْلِمٌ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَاأَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin sa’id telah menceritakan kepada kami Abu ‘awanah. Dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya ‘abdurrahman bin al mubarak telah menceritakan kepada kami abu ‘awanah dari kutabah dari anas bin malik radiallahu’anhu berkata, Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda: “tidaklah seorang  muslimpun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan melainkan itu menjadi shadaqah baginya”. Dan berkata, kepada kami muslim telah menceritakan kepada saya Aban telah menceritakan kepada kami Qatadah telah menceritakan kepada kami. Anas dari Nabi shalallahu’alaihi wasallam. (SHAHIH BUKHARI : 2152)

حَدَّثَنَايَحْيَ بْنُ مَعِيْنٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُبْنُ خَالِدٍ الْخَيَّاطُ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِبْنِ نُفَيْرٍعَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ قَالَ إِذَا رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَأَدْرَكْتَهُ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ وَسَهْمُكَ فِيْهِ فَكُلْهُ مَالَمْ يُنْتِنْ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin ma’in, telah menceritaka kepada kami Hammad bin Khalid Al Khayyath, dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Tsa’labah Al Khusyani, dari Nabi shalallahu’alaihi wasallam, beliau berasbda: “apabila engkau memanah hewan buruan kemudian engkau mendapatinya setelah tiga malam dan anak panahmu ada adanya, maka makanlah” selama belum membusuk! (Sunan abu daud : 2477)

اَوَلَمْ يَرَوْااَنَّانَسُوْقُ الْمَاٙءَاِلَى الْاَرْضِ الْجُرُزِفَنُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًاتَأْكُلُ مِنْهُ اَنْعَامُهُمْ وَاَنْفُسُهُمْۗ اَفَلَايُبْصِرُوْنَ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak merekadan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? (Qs ASSAJDAH [27])

وَهُوَالَّذِيٙ اَنْشَاَجَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَمَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًااُكُلُهُ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًاوَّغَيْرَمُتَشَابِهٍۗ كُلُوْامِنْ ثَمَرِهٖ اِذَاٙاَثْمَرَوَاٰتُوْاحَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهٖۗ وَلَاتُسْرِفُوْاۗاِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang bejunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Qs AL AN’AAM [141])

وَاِنَّ لَكُمْ فِى اْلاَنْعَامِ لَعِبْرَةٌۚ نُسْقِيْكُمْ مٍّمَّافِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَۢيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًاجَالِمًاسَاٙٮِٕغًالِّلشٰرِبِيْنَ

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (Qs AN NAHL [66])

ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗيَجْرُجُ مِنْ بُۢطُوْنِهَاشَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاٙءٌلِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَهً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan tuhanmu yang telah dimudahan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (Qs AN NAHL [69])

dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).  (Qs AN NAHL [80])

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-  

tumbuhan yang indah.

([5] Qs AL HAJJ)

 dan Sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar benar terdapat

pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,

 dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut.

([Qs AL MU’MINUN [21-22)

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut  sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Qs AL MAIDAH [96] )

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Qs Ali Imran [190-191] )

PENUTUP

A.KESIMPULAN   

Dari uraian di atas dapat kami simpulkan sebagai berikut.

  1. Biologi (ilmu hayat) adalah ilmu mengenai kehidupan.
  2. Organisasi biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua makhluk hidup atau lebih.
  3. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi  antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.
  4. Ekosistem adalah tempat dimana kehidupan berlangsung dalam sistem yang teratur dan mandiri atau ketergantungan, misalnya rantai/jaringan makanan dan siklus hidrologi.
  5. tipologi ekosistem,

Darisegi jenjang makanan ada dua komponen ekosistem yaitu;

Autotrofik

Heterotrofik

Dari segi fungsional, ekosistem dapat dianalisa menurut;

Lingkaran, energi

Rantai makanan

Pola keragaman, dalam waktu, dan ruang

Perkembangan dan evolusi

Pengendalian (cybernetics)

  1. Macam-macam interaksi dalam komunitas, yaitu: predasi, kompetisi, komensalisme, mutualisme,dan paraditisme.
  2. Dalil-dalil terkait dengan organisasi biologi yang terurai di atas

B.SARAN

Agar dalam penyusunan karya ilmiah ini bisa memberikan manfaat yang besar maka penulis menyarankan:

  1. mengambil intisari dari karya ilmiah yang kami buat ini.
  2. memahami organisasi biologi beserta dalil-dalil yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA

 

contoh makalah biologi. Diakses dari www.filesking.net/doc/contoh-makalah     biologi.html pada tanggal 22 februari 2012

Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, ekologi. Artikel diakses dari                 http://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi

Biologi,susunan dan mana ekosistem. 2000. Diakses dari

http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0034%20Bio%201-7e.htm

sejarah dan ruanglingkup ekologi dan ekosistem. Diakses dari

http://massofa.wordpress.com/2008/09/23/sejarah-dan-ruang-lingkup-ekologi-dan-ekosistem/  pada tanggal 09 maret 2012

Microsoft power point Ilmu Alamiah Dasar, kajian ke-8

Al qur’an dan Al Hadits

Pria Maroko Dipenjara Selama Enam Bulan karena Kibarkan Bendera Israel Pria Maroko Dipenjara Selama Enam Bulan karena Kibarkan Bendera Israel

Pengadilan Maroko Jumat kemarin (2/3) menjatuhkan hukuman kepada seorang pria untuk enam bulan penjara setelah ia mengibarkan bendera Israel di atas rumahnya dalam upaya menarik perhatian pemerintah daerah dan sebagai aksi protes pemutusan pasokan listrik dan air ke rumahnya, media Maroko melaporkan.

Muhammad Jadidi, 42 tahun, telah menggambar bendera Israel di selembar kain putih dan kemudian mengibarkan di atas rumahnya di lingkungan Bandara kota (Berber).

Dia dilaporkan melakukan hal itu setelah listrik dan air terputus ke rumahnya, yang rumah itu telah ditempati oleh keluarganya sejak kematian ayahnya, yang merupakan bagian dari pasukan paramiliter.

Jadidi ditangkap Senin lalu dan didakwa dengan “penistaan” melalui usaha merusak bendera nasional.

Ibunya muncul di sebuah video yang beredar di situs Maroko meminta Raja Muhammad VI untuk melepaskan putranya. Dia mengatakan dia hanya mengibarkan bendera Israel untuk menarik perhatian para pejabat senior untuk melihat kondisi keluarganya.

Asosiasi Hak Asasi Manusia lokal mengecam keputusan pengadilan sebagai tak berdasar dan mengatakan tidak ada kaitannya mengibarkan bendera asing dengan upaya merongrong bendera nasional. (fq/aby)

Resensi Film “Fetih 1453″

dakwatuna.com – “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah SAW di abad ke-7. Pancaran optimisme yang luar biasa dari beliau di saat kaum muslimin masih belum bebas bergerak di seputar jazirah Arab. Namun kemantapan hati bahwa agama ini akan berkembang pesat dan luas itu sangat menenangkan para sahabat.

Membayangkan masuknya Islam hingga ke jantung sebuah negara adidaya, mungkin setara dengan mengatakan bahwa nantinya Gedung Putih akan menjadi salah satu icon peradaban muslim. Nyaris tak tergambarkan. Namun keimanan kepada Rasulullah adalah satu syarat mutlak seorang mukmin, maka setiap benak yang ada pada para sahabat pun bertekad kuat untuk mewujudkannya. Semua berdoa, memohon kepada Allah SWT bahwa ia-lah yang dimaksud dalam hadits tersebut. Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pasukan. Subhanallah.

Film “Fetih 1453“ buatan Turki yang disutradari Faruk Aksoy ini diluncurkan serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 16 Februari 2012. Momen diriwayatkannya hadits tersebut dijadikan pembuka alur cerita, sekaligus mengisyaratkan bahwa keseluruhan visualisasi yang disajikan adalah bentuk adaptasi dari kisah nyata yang terjadi ratusan tahun silam. Saat itu, tentara kesultanan Usmani di bawah komando langsung dari sang Sultan Muhammad II mampu menaklukkan kota dengan pertahanan terbaik di dunia, yakni Konstantinopel.

Dengan menjual predikat kepahlawanan yang “based on true story“, tentu saja beban yang dibawa oleh film ini cukup berat. Namun bagaimana pun, yang hadir di gedung bioskop dan menyaksikan film ini dapat dikategorikan setidaknya satu dari empat tipe: (1) penikmat sejarah, (2) pendamba hiburan Islami, (3) pengamat film, atau (4) penonton biasa yang “nothing to lose“.

Faruk Aksoy, sutradara Fetih 1453 (IMDb)

Bagi penonton tipe pertama, hadirnya bumbu dalam ceritera yang disuguhkan tidaklah terlalu penting. Yang harus diperhatikan adalah tahun, kejadian, kutipan, serta visualisasi. Semisal, bagaimana dalam “Fetih 1453” Selat Bosphorus ditampilkan terpagari oleh rantai besar yang dapat menghalangi kapal-kapal perang untuk melaluinya. Atau, momen di mana meriam besar berukuran 8 meter itu dibuat kemudian ditarik oleh ratusan orang dan puluhan kerbau ke medan laga. Jika unsur-unsur ini terpenuhi, yang lain sedikit-banyak boleh diabaikan.

Berbeda dengan itu, penonton tipe kedua akan lebih cenderung pada karakter di dalam film yang disaksikan. Apabila terjadi penggambaran yang keliru pada tokoh kunci, maka nilai tontonan itu akan menurun di hadapannya. Memang mustahil mendapatkan protagonis yang terlalu sempurna, namun ada harapan besar bahwa ciri-ciri utama yang ada dalam benaknya, dapat terpenuhi.

Tipe ketiga lebih cenderung menjadi observer. Pada umumnya, sepanjang film ia “sibuk” melakukan komparasi dengan film lain atau menganalisa logis-tidaknya alur cerita yang disajikan. Untuk film perang kolosal yang berlandaskan kisah nyata, perbandingan yang “apple-to-apple“ antara lain bisa diambil dari Kingdom of Heaven (dibintangi oleh Orlando Bloom & Liam Neeson), Braveheart (Mel Gibson), atau Troy (Brad Pitt & Eric Bana). Juga sedikit banyak film seperti Hero (Jet Li & Donnie Yen).

Sedangkan tipe keempat atau terakhir biasanya tidak terlalu mempermasalahkan apa pun, namun mendambakan sebuah alur cerita yang utuh serta tidak membingungkan. Umumnya menyukai humor ringan, kejutan kecil atau adegan yang heroik, sesuai tipe film yang ditonton. Kalimat saktinya “tidak apa-apa melenceng dari sejarah, sosok aslinya atau agak tidak masuk akal, asal enak ditonton”. Dan justru tipe inilah yang mayoritas di antara para penonton bioskop.

Jika Anda penonton tipe pertama,

maka mungkin Anda akan temukan adanya berbagai hal yang cukup memenuhi standar di film “Fetih 1453“. Pencantuman bulan dan tahun yang cukup cermat di awal beberapa peristiwa kunci, juga beberapa hari penting dalam peperangan. Beberapa penggambaran tentang perang yang terjadi pun dapat dianggap sesuai dengan beberapa ilustrasi yang ada di berbagai sumber.

Sultan Muhammad II (Mehmed II) yang diperankan oleh Devrim Evin juga mampu memuat sosok tegas yang memancarkan tekad bulat untuk menaklukkan Konstantinopel. Beberapa karakter penting seperti Ulubatli Hasan (meski sebagian orang menyatakan ini adalah tokoh fiktif), Giustiniani (pimpinan pasukan khusus penjaga benteng Konstantinopel), Ak Syamsuddin (guru dari Mehmed II) hingga raja Konstantin XI juga mampu membangun nuansa sejarah yang padu. Juga penggambaran kota dan bangunan-bangunan yang ada pada masa itu, cukup realistis.

Kelemahan yang ada, umumnya adalah kompensasi akan kebutuhan dramatisasi. Salah satu contoh adalah bagaimana karakter Urban, seorang insinyur yang merancang meriam raksasa, digambarkan menolak permintaan pembuatan Konstantin XI dan kemudian terancam dibunuh namun berhasil diselamatkan oleh Hasan. Yang “agak parah” adalah hadirnya seorang perempuan bernama Era dengan status anak angkat Urban. Namun sekali lagi, ini kebutuhan alur cerita untuk penonton tipe keempat.

Pasukan Usmani dan meriam-meriam kecilnya bersiap menyerang Konstantinopel (trthaber)

Jika Anda penonton tipe kedua,

di satu sisi mungkin Anda akan berbahagia dengan hadirnya film ini. Sebuah alternatif di luar tipikal film Hollywood yang hadir dari sebuah negeri mayoritas muslim. Tetapi hendaknya ekspektasi Anda tidak perlu terlalu tinggi. Untuk keseluruhan film, kemungkinan besar Anda akan puas. Namun menyikapi berbagai penggambaran atas karakter-karakter yang ada dalam film tersebut, memang mau tidak mau masih ada bias dengan sejumlah tontonan yang banyak beredar.

Tidak ada manusia yang sempurna, mungkin itu pesan yang ingin ditampilkan. Namun, saat berbagai sumber menyebutkan bahwa Sultan Muhammad II tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib, sunnah rawatib hingga tahajjud, Anda mungkin akan kecewa mendapati bahwa sang permaisuri beliau Mukrima Khatun (di dalam film menggunakan nama Gulbahar Hatun, namun jelas dikisahkan bahwa ia adalah ibu dari Bayazid II), digambarkan tidak berhijab. Gelengan kepala Anda juga akan makin lebar saat melihat kesibukan sang ibu negara di sepanjang film nyaris hanya bersolek saja. Ya, begitulah adanya film tersebut.

Juga, pengaruh Hollywood nampaknya tidak bisa lepas dengan mudah. Masih ada saja pernik-pernik yang cukup mengganggu, semisal kisah asmara antara Hasan dan Era. Mengingat Hasan dikenang sebagai pahlawan besar perang tersebut (yang pasukannya adalah sebaik-baik pasukan) sedangkan Era adalah tokoh fiktif, jelaslah bahwa ini sekedar mengakomodir keinginan untuk menampilkan alur cerita yang dramatis.

Jika Anda penonton tipe ketiga,

bisa jadi pertama-tama yang Anda bayangkan adalah bagaimana film ini menampilkan sebuah ciri khas, di luar berbagai tontonan yang pernah beredar. Mampukah perfilman Turki menampilkan kualitas film yang sejajar dengan Hollywood, Eropa atau Asia Timur? Standar yang terlalu tinggi memang, namun setidaknya harapan itu masih ada.

Membandingkan dengan film-film lain yang bersesuaian tema, maka di berbagai momen Anda akan melihat sedikit duplikasi Kingdom of Heaven saat pasukan Usmani berusaha memanjat tembok benteng. Dari sudut pandang sejarah memang demikianlah situasinya, namun Anda mungkin berharap bisa melihat versi yang agak berbeda. Juga, adegan meluncurnya ribuan panah yang visualisasinya masih (sedikit) di bawah Hero. Atau adegan negosiasi antara Muhammad II dan Konstantin XI yang penggambaran umumnya tidak jauh berbeda dengan Troy. Tanpa mengatakan film ini kurang kreatif, namun tanpa sengaja pikiran Anda akan lari ke sana jika pernah menyaksikan film-film tersebut.

Lagi-lagi menyoal dramatisasi, Anda akan menemukan bahwa hubungan emosional yang coba dibentuk melalui karakter Era agak “maksa”. Setelah menolak lamaran Giustiniani yang merupakan jenderal pertahanan Konstantinopel, Era pulang ke rumah ayah angkatnya (Urban sang insinyur meriam), dan kemudian menjalin hubungan dengan Hasan yang merupakan pimpinan pasukan khusus Usmani. Saya sempat menebak, di suatu bagian dari film akan digambarkan pertarungan satu lawan satu antara Hasan dan Giustiniani. Dan dengan dinyana, ternyata tebakan saya benar.

Adegan 1 lawan 1 antara Hasan & Giustiniani (haberler)

Jika Anda penonton tipe keempat,

maka Andalah yang berusaha dimanjakan oleh film ini. Banyaknya adegan kekerasan seperti – maaf – tangan atau kaki terpotong, leher tertembus tombak, dsb mungkin cukup seru bagi penggemar film action. Karena adegan semacam itu cukup signifikan, film ini dikategorikan FSK-16 di Jerman (tempat saya menontonnya), yang berarti terlarang bagi anak berusia di bawah 16 tahun.

Penggemar drama? Hadirlah rentetan bumbu yang berkisar di seputar romantika para tokohnya. Hanya bumbu, karena seandainya pun adegan-adegan itu tidak ada, jalan cerita tidaklah terpengaruh besar. Atau malah sama sekali nggak ngefek. Barangkali sikap Sultan Muhammad II yang dingin dan tidak sekalipun bersedia tersenyum kepada anak dan istrinya sebelum Konstantinopel takluk membuat Anda terbawa, atau bisa juga penggambaran sang raja yang frustrasi menjadi titik di mana Anda tersentuh. Walau mungkin, Anda juga akan merasa jengkel dengan sikap Konstantin XI yang digambarkan berfoya-foya di banyak adegan. Ya, selamat mencari kesesuaian dengan apa yang Anda harapkan.

Nah…

apakah film ini layak tonton? Insya Allah, iya. Ada perspektif baru yang bisa ditambahkan pada memori Anda, yakni film asing yang digagas dan dibuat oleh dunia Islam. Situs rujukan film IMDb, saat tulisan ini dibuat, telah merangkum lebih dari 16.000 votes dengan nilai rata-rata 8.4 yang berarti sangat tinggi. Memang itu bukan patokan satu-satunya, namun sedikit-banyak angka tersebut bisa memberikan gambaran bagi kita.

Saya sarankan, jika nantinya bioskop di Indonesia memutarnya, saksikan bersama orang-orang yang sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana peperangan dan tokoh-tokoh kunci yang ada di film ini. Syukur-syukur lagi kalau ada yang bisa membuat intisari dari berbagai hikmah yang tersedia, apakah itu dari sisi Islam, motivasi, dunia perfilman, atau sekedar hiburan. Tapi tentu saja itu bukan sebuah keharusan, melainkan sekedar rekomendasi.

Film ini hanya tersedia dalam bahasa Turki. Umumnya bioskop-bioskop Jerman memutar film asing yang sudah melalui proses dubbing, tapi “Fetih 1453” ditayangkan hanya dengan subtitle bahasa lokal. Bisa jadi karena cukup banyak orang berkebangsaan atau keturunan Turki di Jerman sini.

Jadi, kapan ditayangkan di Indonesia? Entahlah… jika Anda tahu, ayo beri informasi melalui komentar Anda di bawah, terlepas dari Anda sudah menonton atau belum. Semoga tulisan ini dan apa pun pendapat Anda tentang film “Fetih 1453″ bisa bermanfaat bagi kita semua… amin.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, `Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?´ Beliau menjawab, `Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.’ Maksudnya adalah Konstantinopel.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19168/resensi-film-fetih-1453/#ixzz1o8yApNBT