Love your religion bigger than your country

two days ago I post about it on my facebook, below:

“some of foreigner asked about the election of Jakarta, they thought we hate non-muslim but this is the fact why we avoid them to be leader in Jakarta or even in Indonesia.

The election of Governor and Vice Governor of DKI Jakarta in 2017 make sure to take a lot of attention not only the citizens of Jakarta, but the entire Indonesian community and even the international world, both through print and electronic media.

The victory of muslim jakarta, then become victory Muslim Indonesia. The defeat of Muslims in Jakarta, then the defeat of Muslims in Indonesia and even Muslims in the world.

We must be literate on the situation that must make us have a great spirit of struggle for the safety of Indonesian wholeness that the majority of the population is Muslim.

Take the example of singapore, imitating the style of lee kwan yew before coming to power in singapore.

Wear caps, go inside mosque, build madrasah. After coming to power, in just 5 years indigenous of Malay was eliminated.

Melayu’s village is drag, forced to move to flat. Learn from Singapore. Learn from countries where the majority of Muslims are now lost, expelled, excluded from their own land.

O people of Indonesia, especially the people of Jakarta. Awakening from the fear, the strength of the unity and the unity of the majority Muslim community in Indonesia is everything.

Become a more intelligent jakarta community, who want to turn into a leading society with a quality of faith that can not be bought cheaply.”

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

then a day after I post it, there is someone from Singapore give her comment. she look so angry, because yeah she is singapore malayan. I knew far before I post it on facebook, that it would be bother her but as you want to know, I post it on facebook not because I am indonesian, then I want to compare with singapore. NO!! NO!!

I post it because I love my religion, I love Islam more than anything. I want to share to public on facebook, I want to share to muslim around the world. that we are muslim, don’t let non-muslim lead us in our own country, our land, because we are majority here. don’t let them take our country once after they got their position.

I just want them open their eyes, open their mind and heart. that non-muslim leader is haram for muslim.

as Allah said in Al-Qur’an in some ayah:

surah Ali Imran : 28

“Let not believers take disbelievers as allies rather than believers. And whoever [of you] does that has nothing with Allah, except when taking precaution against them in prudence. And Allah warns you of Himself, and to Allah is the [final] destination.”

surah An-Nisa : 144

“O you who have believed, do not take the disbelievers as allies instead of the believers. Do you wish to give Allah against yourselves a clear case?”

Al-Maidah : 57

“O you who have believed, take not those who have taken your religion in ridicule and amusement among the ones who were given the Scripture before you nor the disbelievers as allies. And fear Allah, if you should [truly] be believers.”

surah At-Taubah : 23

“O you who have believed, do not take your fathers or your brothers as allies if they have preferred disbelief over belief. And whoever does so among you – then it is those who are the wrongdoers.”

surah Al-Mujadilah : 23

“You will not find a people who believe in Allah and the Last Day having affection for those who oppose Allah and His Messenger, even if they were their fathers or their sons or their brothers or their kindred. Those – He has decreed within their hearts faith and supported them with spirit from Him. And We will admit them to gardens beneath which rivers flow, wherein they abide eternally. Allah is pleased with them, and they are pleased with Him – those are the party of Allah . Unquestionably, the party of Allah – they are the successful.”

Ali Imran : 149-150

“O you who have believed, if you obey those who disbelieve, they will turn you back on your heels, and you will [then] become losers. But Allah is your protector, and He is the best of helpers.”

Al-Maidah : 51

“O you who have believed, take not those who have taken your religion in ridicule and amusement among the ones who were given the Scripture before you nor the disbelievers as allies. And fear Allah, if you should [truly] be believers.”

============================================================================

it’s clear in Qur’an that Allah forbid us to do not take non-muslim as a leader.

not because her leader (in singapore) free from corruption, not because her goverment better than ours. no.. but I just want muslim around the world think and open their eyes their mind. and understand the fact of that issue and understand islamic law. we have to obey our Lord Allah swt than our president, king or queen. don’t let we love them until they control us. even eliminate you (muslim) from your country until you become minority in your own country.

I share it on facebook to make people understand and open their eyes, that we are indonesian muslim, do not want to loss our country. we don’t want non-muslim eliminate muslim from indonesia then become minority.

but I see, she loves her country more than her religion. if she loves Islam more than her country, she will understand and open mind that is true. her muslim in her country eliminated by non-muslim leader. 5 years after he got his position in her country.

yes this is fact that her country better than my country, but look! it under non-muslim control. do you love non-muslim control you?

Dear Muslim, we have to open our eyes and mind. it’s time for rise and take our victory again. this is the end of this world. so where we will return? we’ll return to hereafter, we will leave this world, so don’t put our heart to this world. don’t let our heart love this world and blind our eyes from islamic law.

Pria Maroko Dipenjara Selama Enam Bulan karena Kibarkan Bendera Israel Pria Maroko Dipenjara Selama Enam Bulan karena Kibarkan Bendera Israel

Pengadilan Maroko Jumat kemarin (2/3) menjatuhkan hukuman kepada seorang pria untuk enam bulan penjara setelah ia mengibarkan bendera Israel di atas rumahnya dalam upaya menarik perhatian pemerintah daerah dan sebagai aksi protes pemutusan pasokan listrik dan air ke rumahnya, media Maroko melaporkan.

Muhammad Jadidi, 42 tahun, telah menggambar bendera Israel di selembar kain putih dan kemudian mengibarkan di atas rumahnya di lingkungan Bandara kota (Berber).

Dia dilaporkan melakukan hal itu setelah listrik dan air terputus ke rumahnya, yang rumah itu telah ditempati oleh keluarganya sejak kematian ayahnya, yang merupakan bagian dari pasukan paramiliter.

Jadidi ditangkap Senin lalu dan didakwa dengan “penistaan” melalui usaha merusak bendera nasional.

Ibunya muncul di sebuah video yang beredar di situs Maroko meminta Raja Muhammad VI untuk melepaskan putranya. Dia mengatakan dia hanya mengibarkan bendera Israel untuk menarik perhatian para pejabat senior untuk melihat kondisi keluarganya.

Asosiasi Hak Asasi Manusia lokal mengecam keputusan pengadilan sebagai tak berdasar dan mengatakan tidak ada kaitannya mengibarkan bendera asing dengan upaya merongrong bendera nasional. (fq/aby)

Resensi Film “Fetih 1453″

dakwatuna.com – “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah SAW di abad ke-7. Pancaran optimisme yang luar biasa dari beliau di saat kaum muslimin masih belum bebas bergerak di seputar jazirah Arab. Namun kemantapan hati bahwa agama ini akan berkembang pesat dan luas itu sangat menenangkan para sahabat.

Membayangkan masuknya Islam hingga ke jantung sebuah negara adidaya, mungkin setara dengan mengatakan bahwa nantinya Gedung Putih akan menjadi salah satu icon peradaban muslim. Nyaris tak tergambarkan. Namun keimanan kepada Rasulullah adalah satu syarat mutlak seorang mukmin, maka setiap benak yang ada pada para sahabat pun bertekad kuat untuk mewujudkannya. Semua berdoa, memohon kepada Allah SWT bahwa ia-lah yang dimaksud dalam hadits tersebut. Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pasukan. Subhanallah.

Film “Fetih 1453“ buatan Turki yang disutradari Faruk Aksoy ini diluncurkan serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 16 Februari 2012. Momen diriwayatkannya hadits tersebut dijadikan pembuka alur cerita, sekaligus mengisyaratkan bahwa keseluruhan visualisasi yang disajikan adalah bentuk adaptasi dari kisah nyata yang terjadi ratusan tahun silam. Saat itu, tentara kesultanan Usmani di bawah komando langsung dari sang Sultan Muhammad II mampu menaklukkan kota dengan pertahanan terbaik di dunia, yakni Konstantinopel.

Dengan menjual predikat kepahlawanan yang “based on true story“, tentu saja beban yang dibawa oleh film ini cukup berat. Namun bagaimana pun, yang hadir di gedung bioskop dan menyaksikan film ini dapat dikategorikan setidaknya satu dari empat tipe: (1) penikmat sejarah, (2) pendamba hiburan Islami, (3) pengamat film, atau (4) penonton biasa yang “nothing to lose“.

Faruk Aksoy, sutradara Fetih 1453 (IMDb)

Bagi penonton tipe pertama, hadirnya bumbu dalam ceritera yang disuguhkan tidaklah terlalu penting. Yang harus diperhatikan adalah tahun, kejadian, kutipan, serta visualisasi. Semisal, bagaimana dalam “Fetih 1453” Selat Bosphorus ditampilkan terpagari oleh rantai besar yang dapat menghalangi kapal-kapal perang untuk melaluinya. Atau, momen di mana meriam besar berukuran 8 meter itu dibuat kemudian ditarik oleh ratusan orang dan puluhan kerbau ke medan laga. Jika unsur-unsur ini terpenuhi, yang lain sedikit-banyak boleh diabaikan.

Berbeda dengan itu, penonton tipe kedua akan lebih cenderung pada karakter di dalam film yang disaksikan. Apabila terjadi penggambaran yang keliru pada tokoh kunci, maka nilai tontonan itu akan menurun di hadapannya. Memang mustahil mendapatkan protagonis yang terlalu sempurna, namun ada harapan besar bahwa ciri-ciri utama yang ada dalam benaknya, dapat terpenuhi.

Tipe ketiga lebih cenderung menjadi observer. Pada umumnya, sepanjang film ia “sibuk” melakukan komparasi dengan film lain atau menganalisa logis-tidaknya alur cerita yang disajikan. Untuk film perang kolosal yang berlandaskan kisah nyata, perbandingan yang “apple-to-apple“ antara lain bisa diambil dari Kingdom of Heaven (dibintangi oleh Orlando Bloom & Liam Neeson), Braveheart (Mel Gibson), atau Troy (Brad Pitt & Eric Bana). Juga sedikit banyak film seperti Hero (Jet Li & Donnie Yen).

Sedangkan tipe keempat atau terakhir biasanya tidak terlalu mempermasalahkan apa pun, namun mendambakan sebuah alur cerita yang utuh serta tidak membingungkan. Umumnya menyukai humor ringan, kejutan kecil atau adegan yang heroik, sesuai tipe film yang ditonton. Kalimat saktinya “tidak apa-apa melenceng dari sejarah, sosok aslinya atau agak tidak masuk akal, asal enak ditonton”. Dan justru tipe inilah yang mayoritas di antara para penonton bioskop.

Jika Anda penonton tipe pertama,

maka mungkin Anda akan temukan adanya berbagai hal yang cukup memenuhi standar di film “Fetih 1453“. Pencantuman bulan dan tahun yang cukup cermat di awal beberapa peristiwa kunci, juga beberapa hari penting dalam peperangan. Beberapa penggambaran tentang perang yang terjadi pun dapat dianggap sesuai dengan beberapa ilustrasi yang ada di berbagai sumber.

Sultan Muhammad II (Mehmed II) yang diperankan oleh Devrim Evin juga mampu memuat sosok tegas yang memancarkan tekad bulat untuk menaklukkan Konstantinopel. Beberapa karakter penting seperti Ulubatli Hasan (meski sebagian orang menyatakan ini adalah tokoh fiktif), Giustiniani (pimpinan pasukan khusus penjaga benteng Konstantinopel), Ak Syamsuddin (guru dari Mehmed II) hingga raja Konstantin XI juga mampu membangun nuansa sejarah yang padu. Juga penggambaran kota dan bangunan-bangunan yang ada pada masa itu, cukup realistis.

Kelemahan yang ada, umumnya adalah kompensasi akan kebutuhan dramatisasi. Salah satu contoh adalah bagaimana karakter Urban, seorang insinyur yang merancang meriam raksasa, digambarkan menolak permintaan pembuatan Konstantin XI dan kemudian terancam dibunuh namun berhasil diselamatkan oleh Hasan. Yang “agak parah” adalah hadirnya seorang perempuan bernama Era dengan status anak angkat Urban. Namun sekali lagi, ini kebutuhan alur cerita untuk penonton tipe keempat.

Pasukan Usmani dan meriam-meriam kecilnya bersiap menyerang Konstantinopel (trthaber)

Jika Anda penonton tipe kedua,

di satu sisi mungkin Anda akan berbahagia dengan hadirnya film ini. Sebuah alternatif di luar tipikal film Hollywood yang hadir dari sebuah negeri mayoritas muslim. Tetapi hendaknya ekspektasi Anda tidak perlu terlalu tinggi. Untuk keseluruhan film, kemungkinan besar Anda akan puas. Namun menyikapi berbagai penggambaran atas karakter-karakter yang ada dalam film tersebut, memang mau tidak mau masih ada bias dengan sejumlah tontonan yang banyak beredar.

Tidak ada manusia yang sempurna, mungkin itu pesan yang ingin ditampilkan. Namun, saat berbagai sumber menyebutkan bahwa Sultan Muhammad II tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib, sunnah rawatib hingga tahajjud, Anda mungkin akan kecewa mendapati bahwa sang permaisuri beliau Mukrima Khatun (di dalam film menggunakan nama Gulbahar Hatun, namun jelas dikisahkan bahwa ia adalah ibu dari Bayazid II), digambarkan tidak berhijab. Gelengan kepala Anda juga akan makin lebar saat melihat kesibukan sang ibu negara di sepanjang film nyaris hanya bersolek saja. Ya, begitulah adanya film tersebut.

Juga, pengaruh Hollywood nampaknya tidak bisa lepas dengan mudah. Masih ada saja pernik-pernik yang cukup mengganggu, semisal kisah asmara antara Hasan dan Era. Mengingat Hasan dikenang sebagai pahlawan besar perang tersebut (yang pasukannya adalah sebaik-baik pasukan) sedangkan Era adalah tokoh fiktif, jelaslah bahwa ini sekedar mengakomodir keinginan untuk menampilkan alur cerita yang dramatis.

Jika Anda penonton tipe ketiga,

bisa jadi pertama-tama yang Anda bayangkan adalah bagaimana film ini menampilkan sebuah ciri khas, di luar berbagai tontonan yang pernah beredar. Mampukah perfilman Turki menampilkan kualitas film yang sejajar dengan Hollywood, Eropa atau Asia Timur? Standar yang terlalu tinggi memang, namun setidaknya harapan itu masih ada.

Membandingkan dengan film-film lain yang bersesuaian tema, maka di berbagai momen Anda akan melihat sedikit duplikasi Kingdom of Heaven saat pasukan Usmani berusaha memanjat tembok benteng. Dari sudut pandang sejarah memang demikianlah situasinya, namun Anda mungkin berharap bisa melihat versi yang agak berbeda. Juga, adegan meluncurnya ribuan panah yang visualisasinya masih (sedikit) di bawah Hero. Atau adegan negosiasi antara Muhammad II dan Konstantin XI yang penggambaran umumnya tidak jauh berbeda dengan Troy. Tanpa mengatakan film ini kurang kreatif, namun tanpa sengaja pikiran Anda akan lari ke sana jika pernah menyaksikan film-film tersebut.

Lagi-lagi menyoal dramatisasi, Anda akan menemukan bahwa hubungan emosional yang coba dibentuk melalui karakter Era agak “maksa”. Setelah menolak lamaran Giustiniani yang merupakan jenderal pertahanan Konstantinopel, Era pulang ke rumah ayah angkatnya (Urban sang insinyur meriam), dan kemudian menjalin hubungan dengan Hasan yang merupakan pimpinan pasukan khusus Usmani. Saya sempat menebak, di suatu bagian dari film akan digambarkan pertarungan satu lawan satu antara Hasan dan Giustiniani. Dan dengan dinyana, ternyata tebakan saya benar.

Adegan 1 lawan 1 antara Hasan & Giustiniani (haberler)

Jika Anda penonton tipe keempat,

maka Andalah yang berusaha dimanjakan oleh film ini. Banyaknya adegan kekerasan seperti – maaf – tangan atau kaki terpotong, leher tertembus tombak, dsb mungkin cukup seru bagi penggemar film action. Karena adegan semacam itu cukup signifikan, film ini dikategorikan FSK-16 di Jerman (tempat saya menontonnya), yang berarti terlarang bagi anak berusia di bawah 16 tahun.

Penggemar drama? Hadirlah rentetan bumbu yang berkisar di seputar romantika para tokohnya. Hanya bumbu, karena seandainya pun adegan-adegan itu tidak ada, jalan cerita tidaklah terpengaruh besar. Atau malah sama sekali nggak ngefek. Barangkali sikap Sultan Muhammad II yang dingin dan tidak sekalipun bersedia tersenyum kepada anak dan istrinya sebelum Konstantinopel takluk membuat Anda terbawa, atau bisa juga penggambaran sang raja yang frustrasi menjadi titik di mana Anda tersentuh. Walau mungkin, Anda juga akan merasa jengkel dengan sikap Konstantin XI yang digambarkan berfoya-foya di banyak adegan. Ya, selamat mencari kesesuaian dengan apa yang Anda harapkan.

Nah…

apakah film ini layak tonton? Insya Allah, iya. Ada perspektif baru yang bisa ditambahkan pada memori Anda, yakni film asing yang digagas dan dibuat oleh dunia Islam. Situs rujukan film IMDb, saat tulisan ini dibuat, telah merangkum lebih dari 16.000 votes dengan nilai rata-rata 8.4 yang berarti sangat tinggi. Memang itu bukan patokan satu-satunya, namun sedikit-banyak angka tersebut bisa memberikan gambaran bagi kita.

Saya sarankan, jika nantinya bioskop di Indonesia memutarnya, saksikan bersama orang-orang yang sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana peperangan dan tokoh-tokoh kunci yang ada di film ini. Syukur-syukur lagi kalau ada yang bisa membuat intisari dari berbagai hikmah yang tersedia, apakah itu dari sisi Islam, motivasi, dunia perfilman, atau sekedar hiburan. Tapi tentu saja itu bukan sebuah keharusan, melainkan sekedar rekomendasi.

Film ini hanya tersedia dalam bahasa Turki. Umumnya bioskop-bioskop Jerman memutar film asing yang sudah melalui proses dubbing, tapi “Fetih 1453” ditayangkan hanya dengan subtitle bahasa lokal. Bisa jadi karena cukup banyak orang berkebangsaan atau keturunan Turki di Jerman sini.

Jadi, kapan ditayangkan di Indonesia? Entahlah… jika Anda tahu, ayo beri informasi melalui komentar Anda di bawah, terlepas dari Anda sudah menonton atau belum. Semoga tulisan ini dan apa pun pendapat Anda tentang film “Fetih 1453″ bisa bermanfaat bagi kita semua… amin.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, `Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?´ Beliau menjawab, `Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.’ Maksudnya adalah Konstantinopel.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19168/resensi-film-fetih-1453/#ixzz1o8yApNBT